Karawang Intalasiberita.com-Menghadapi musim tanam padi berikutnya, masyarakat dan para petani Desa Pasirjaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, menggelar gotong royong membersihkan dan menormalisasi saluran irigasi pada Rabu (13/8/2026).
Kegiatan gotong royong atau gorol tersebut dilakukan untuk memastikan aliran air menuju areal persawahan tetap lancar. Langkah ini dinilai penting mengingat saat ini sebagian wilayah Karawang masih menghadapi musim kemarau sehingga petani tidak dapat sepenuhnya mengandalkan pasokan air hujan.
Kepala Desa Pasirjaya, H. Abdul Hakim atau Sagelak, mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk kesiapan masyarakat, khususnya para petani, menghadapi musim tanam padi berikutnya.
Menurutnya, petani di Desa Pasirjaya ditargetkan mulai melakukan penanaman pada pertengahan September mendatang. Dengan percepatan persiapan saluran irigasi, diharapkan pola tanam tetap berjalan sesuai jadwal sehingga petani dapat mempertahankan peluang panen dua kali dalam setahun.
“Intinya, khusus bagi warga dan para petani Pasirjaya, kami mengajak untuk bergotong royong membersihkan saluran air. Jangan sampai musim tanam kembali tertunda karena persoalan aliran air,” ujar Abdul Hakim.
Ia menjelaskan, apabila musim tanam kembali mengalami keterlambatan, dikhawatirkan masa panen ikut bergeser. Kondisi tersebut dapat membuat petani hanya mampu melakukan satu kali panen dalam satu tahun.
Karena itu, pemerintah desa bersama masyarakat berupaya memperlancar aliran air dari jaringan irigasi utama hingga saluran tersier yang mengairi persawahan di sejumlah wilayah.
Gotong royong dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan masyarakat dan petani dari sejumlah desa, di antaranya Desa Manggungjaya, Tegalurung, Mukti Jaya, Pasirukem, serta Pasirjaya.
Normalisasi saluran dilakukan mulai dari jalur POT 7 hingga KOL 8 dan menuju sejumlah saluran tersier yang mengairi kawasan persawahan. Saluran tersebut menjadi bagian penting dalam mendistribusikan air ke areal pertanian di wilayah Kiara, Langensari, Sukamulya, Pasirukem, Mukti Jaya, Sukajaya, hingga Pasirjaya.
Namun, proses pembersihan masih menghadapi kendala di sejumlah titik. Salah satunya di sekitar kawasan UPTD dan TPU atau makam di belakang kantor kecamatan, karena saluran dipenuhi eceng gondok dan ganggang yang cukup tebal.
Menurut Abdul Hakim, kondisi tersebut tidak cukup ditangani dengan tenaga manusia sehingga membutuhkan bantuan alat berat atau ekskavator.
“Kami berharap saluran yang masih tertutup eceng dan ganggang bisa segera ditangani dengan alat berat. Tujuannya agar air dari saluran utama dapat mengalir lancar sampai ke saluran tersier dan akhirnya masuk ke persawahan,” katanya.
Ia menambahkan, upaya normalisasi ini juga dilakukan melalui koordinasi dengan pihak kecamatan dan pengelola jaringan pengairan. Dalam kegiatan tersebut turut hadir unsur kecamatan serta petugas pengawasan pengairan dari wilayah Tirta Asri Telagasari.
Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan dapat mempercepat pembenahan jaringan irigasi sehingga distribusi air ke lahan pertanian tidak kembali tersendat.
Abdul Hakim berharap, dengan kondisi saluran yang semakin baik, pasokan air untuk lahan pertanian dapat terjaga dan para petani bisa mulai menanam padi pada pertengahan September 2026.
“Kami berharap musim tanam kali ini berjalan lancar. Kalau aliran air lancar, para petani bisa segera melakukan penanaman. Mudah-mudahan air dari jaringan irigasi tidak tersendat dan kebutuhan sawah dapat terpenuhi,” ujarnya.
Upaya tersebut menjadi bagian dari persiapan petani menghadapi musim tanam kedua sekaligus menjaga produktivitas pertanian di wilayah Karawang. Pemerintah desa bersama masyarakat pun berkomitmen mempertahankan budaya gotong royong untuk memastikan jaringan irigasi tetap berfungsi optimal dan mendukung ketahanan pangan daerah.(kry)


