Karawang Intalasiberita.com–Para petani di Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, menyambut positif kunjungan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang berlangsung pada Rabu, 7 Januari 2026. Namun di balik dukungan tersebut, para petani menyampaikan keluhan serius terkait kelangkaan pupuk bersubsidi jenis SP36 yang berdampak langsung pada menurunnya hasil panen.
Anggota DPRD Kabupaten Karawang dari Fraksi PDI Perjuangan, H. Karsim, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan, kunjungan Presiden Prabowo yang salah satunya dalam rangka panen raya di Kecamatan Cilebar menjadi momentum penting untuk menyampaikan persoalan mendasar yang dihadapi petani Karawang.
“Betul, Pak Prabowo Presiden kita hari ini melaksanakan kegiatan panen raya di Kecamatan Cilebar. Karawang ini adalah lumbung padi Jawa Barat bahkan nasional. Tapi untuk mewujudkan swasembada pangan, masih banyak yang perlu dibenahi,” ujar Karsim.
Ia mengungkapkan, produksi padi petani di wilayah yang menjadi binaan Komisi II DPRD Karawang mengalami penurunan cukup signifikan. Jika sebelumnya hasil panen bisa mencapai enam ton per hektare, kini hanya berkisar antara tiga hingga empat ton.
“Penurunan ini salah satunya disebabkan karena pupuk SP36 tidak lagi disubsidi. Padahal pupuk ini sangat penting untuk meningkatkan kesuburan tanah dan hasil produksi,” tegasnya.
Menurut Karsim, pihaknya telah menyampaikan langsung persoalan ini kepada Kementerian Pertanian. Dari hasil komunikasi tersebut, diketahui bahwa subsidi SP36 untuk wilayah Karawang dialihkan ke daerah lain seperti kawasan tambak dan lahan baru di wilayah Papua dan Kalimantan.
“Akibatnya, petani di Karawang yang selama ini menjadi tulang punggung ketahanan pangan justru terdampak. Ini yang perlu menjadi perhatian pemerintah pusat,” katanya.
Selain persoalan pupuk, Karsim juga menyoroti buruknya infrastruktur pertanian di Karawang, terutama jaringan irigasi. Banyak program seperti Jaringan Irigasi Tersier (JITU) dan penurapan yang mengalami kerusakan sehingga aliran air ke sawah tidak optimal.
“Akibatnya, pola tanam menjadi tidak serempak. Ada daerah yang kekurangan air, ada juga yang kelebihan. Ini jelas mengganggu produktivitas pertanian,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah dan pemerintah pusat dapat bersinergi untuk memperbaiki persoalan pupuk dan infrastruktur pertanian. Dengan pembenahan yang serius, Karawang diyakini mampu kembali menjadi tulang punggung swasembada pangan nasional, bahkan berpeluang mengekspor hasil pertanian ke luar negeri.
“Kalau semua ini dibenahi, insyaallah Indonesia bukan hanya swasembada pangan, tetapi juga bisa menjadi negara pengekspor pangan,” pungkas Karsim.(Kry)

Lintas Indonesia
Taktis.web.id
Zonix.web.id
Pojok Media
Politikanews
Gepani.web.id
Borneonews.web.id
Kalbarsatu.web.id
Karawang Bergerak
Bukafakta.web.id
Radarkita.web.id
Inspirasi.web.id
Indeka.web.id
Kampara.web.id
Linkbisnis.co.id
Expose.web.id
Suarakotasiber
RIzki Suarana