Berdasarkan data terbaru dari BPBD Karawang, jumlah wilayah terdampak banjir terus menurun. Dari sebelumnya 11 kecamatan dan 21 desa, kini tersisa 5 kecamatan dan 10 desa yang masih terdampak.
“Alhamdulillah, hari ini kondisi banjir sudah jauh berkurang. Sekarang tinggal 5 kecamatan dan 10 desa yang masih terdampak,” ujar Bupati Aep.
Namun demikian, Bupati menyebutkan banjir terparah masih terjadi di Desa Karangligar dengan ketinggian air mencapai sekitar 2 meter, serta di Desa Sukamakmur. Sementara di wilayah Dengklok, khususnya Desa Kertajaya, genangan air berkisar antara 20 hingga 40 sentimeter.
Bupati Aep menegaskan, penanganan banjir di Karawang dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Seluruh kepala OPD diwajibkan berperan aktif sebagai bagian dari sistem penanggulangan bencana.
“Kolaborasi antar OPD ini sangat penting. Tidak saling mengandalkan, semua bergerak sesuai tugasnya. Kalau ada rumah roboh, langsung ditangani dinas terkait. Dinas kesehatan fokus pada pemeriksaan kesehatan warga, dinas sosial menangani pengungsi dan bantuan,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi peran ASN Karawang yang pada Minggu lalu turut memberikan bantuan langsung kepada para korban banjir.
Terkait kondisi cuaca, Bupati Aep menyampaikan bahwa hujan deras memang terjadi pada Kamis sore, namun intensitasnya mulai menurun pada malam hari. Selama hujan tidak terjadi secara ekstrem di wilayah hulu seperti Bogor, Bekasi, dan Bandung, kondisi debit sungai Cibeet dan Citarum masih dalam batas aman.“Alhamdulillah, malam ini hujan sudah mulai reda. Mudah-mudahan kondisi tetap terkendali,” ujarnya.
Bupati juga mengungkapkan rencana kunjungan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ke Karawang pada Jumat (23/1/2026), yang dijadwalkan akan mengunjungi Desa Karangligar. Sebelumnya, Wakil Presiden juga telah meninjau wilayah terdampak di Karawang Barat dan Kelurahan Tanjungpura.
Untuk sektor pendidikan, Pemkab Karawang mengambil kebijakan meliburkan sementara kegiatan belajar mengajar di wilayah yang masih terendam banjir dengan ketinggian air di atas 40 cm, seperti di Karangligar, Sukamakmur, dan Tanjungpura. Sekolah yang digunakan sebagai tempat pengungsian juga diprioritaskan bagi para korban banjir.
Di sektor pertanian, banjir berdampak pada sekitar 1.800 hektare lahan sawah, meski hanya sekitar 30–40 persen yang berada dalam masa panen. Pemerintah daerah bersama Dinas Pertanian telah menyalurkan bantuan berupa terpal dan memastikan gabah petani tetap diserap dengan harga normal meski dalam kondisi basah.
“Petani tidak kami biarkan rugi. Gabah tetap dibeli sesuai harga, dan bagi lahan yang gagal tanam akan kami siapkan bantuan benih,” tegasnya.
Bupati Aep mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah rawan dan pesisir utara Karawang, untuk tetap waspada mengingat intensitas hujan masih cukup tinggi dan adanya pengaruh pasang air laut. Lansia dan warga berisiko tinggi diimbau untuk sementara mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Untuk penanganan pascabanjir, Pemkab Karawang akan berkoordinasi dengan BBWS, PJT, dan dinas terkait guna menormalisasi kondisi sungai dan infrastruktur yang terdampak.“Selama masih bisa kita tanggulangi bersama, insya Allah Karawang tetap aman,” pungkasnya.(Kry)
