Ketua DPK Apindo Karawang, H. Abdul Syukur, SH, MH, menyampaikan bahwa hingga saat ini Apindo Karawang telah menyelesaikan lima unit rumah, serta satu unit rumah lainnya masih dalam proses pembangunan yang berlokasi di Desa Medan Karya, Kecamatan Tirta Jaya.
“Insyaallah rumah yang sedang dalam proses di Desa Medan Karya akan selesai pada tanggal 3 mendatang, sehingga total bantuan Rutilahu yang telah dan akan diselesaikan berjumlah enam unit,” ujar Abdul Syukur
dalam sambutannya.Ia menjelaskan, total anggaran yang dikeluarkan untuk perbaikan enam rumah tersebut mencapai sekitar Rp240 juta, yang merupakan hasil dukungan dan kolaborasi berbagai pihak.
Setelah rampung, rumah-rumah tersebut akan diserahterimakan secara resmi kepada Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (PRKP) Kabupaten Karawang.
Dalam kesempatan itu, Abdul Syukur juga menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi banjir yang melanda sejumlah wilayah di Karawang, termasuk daerah Dengklok, Karangligar, serta beberapa kawasan perumahan karyawan.
“Kondisi banjir yang terjadi saat ini cukup memprihatinkan. Banyak perumahan, termasuk perumahan karyawan, masih terendam hingga sekarang. Kami turut prihatin atas musibah ini,” katanya.
Abdul Syukur juga menyinggung program daycare Apindo, yang menjadikan Karawang sebagai percontohan daycare pertama di Indonesia oleh DPN Apindo.
Pada kesempatan itu, Apindo Karawang bersama Koperasi Apindo menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan tiga daycare yang telah menjalin kerja sama.
Sebagai bentuk dukungan, terdapat stimulan dari ILO (International Labour Organization) sebesar Rp300 ribu per bulan selama tiga bulan bagi anak karyawan anggota Apindo yang dititipkan di daycare mitra Apindo Karawang.
Selain program sosial, Abdul Syukur juga melaporkan peran Koperasi Apindo Karawang dalam membantu perusahaan anggota,
khususnya dalam pengurusan dokumen seperti Sertifikat Laik Fungsi (SLF), PPG, serta perizinan yang berkaitan dengan Dinas Lingkungan Hidup dan instansi pemerintah daerah lainnya.
Terkait isu ketenagakerjaan, ia mengungkapkan bahwa kondisi pengupahan di Karawang kini menunjukkan perbaikan, setelah sebelumnya Karawang sempat berada di posisi teratas dalam kategori upah tertinggi.
“Alhamdulillah, posisi Karawang kini sudah turun dan disalip oleh Kabupaten Bekasi. Ini hasil perjuangan bersama untuk menciptakan iklim pengupahan yang lebih seimbang,” ujarnya.
Namun demikian, ia juga mengingatkan dampak serius dari tingginya upah terhadap keberlangsungan usaha.
Abdul Syukur mengungkapkan adanya salah satu perusahaan anggota Apindo yang memutuskan menghentikan operasionalnya di Karawang dan akan tutup permanen pada 17 Maret mendatang, dengan jumlah karyawan terdampak sekitar 325 orang.
Untuk itu, ia mengajak seluruh pelaku usaha agar memperkuat komunikasi dengan serikat pekerja, guna menjaga keberlangsungan perusahaan dan mencegah terjadinya penutupan usaha.
“Kami tidak ingin ada lagi anggota Apindo yang menghentikan operasional. Komunikasi yang baik dengan serikat pekerja menjadi kunci agar perusahaan tetap berjalan sesuai regulasi,” pungkasnya.(Kry)
